Managing Corporate Governance in Asia
The Effects of Corruption in Asia to be
discussed by corporate decision makers at Bali
Conference on April 7 and 8, 2005
200 CEOs and senior executives from corporations and governments around
Asia will gather in Bali this April to discuss the positive business results
that can be obtained when a company embraces anticorruption strategies
and find ways how Government, Corporations, Media and the Judiciary can
cooperate in the fight against corruption.
On April 7-8, the third annual Managing Corporate Governance in Asia
Conference will be held in Bali with the theme "Corruption in Asia
- Its effect on Business and Nations". Business and political leaders,
as well as high-ranking experts from international organizations and NGO's
from all over the world will provide their viewpoints and expertise of
the negative effects of corruption and how to minimize its occurrence.
Mr. George Tahija, President/Director of PT. Austindo Nusantara Jaya
will co-chair the MCGA with Mr. Jose L. Cuisia, Jr., President and CEO
of Philippine American Life and General Insurance Company. The Conference
is organized by the C.V. Starr Chair in Corporate Governance in Asia which
is endowed by AIG, the Asian Institute of Management - Ramon V. del Rosario,
Sr. (AIM-RVR) Center for Corporate Responsibility and the AIM-Hills Governance
Center.
"It is time for companies to have a better understanding of how
corruption negatively impacts the growth and development of national economies.
Corporate decision makers in Asia need to learn to succeed in business
without engaging in corrupt practices." said Tahija.
An impressive list of organizations are cooperating to make the conference
successful: Confederation of Asia-Pacific Chambers of Commerce and Industry
(CACCI); The Asia Foundation (TAF); Association of Development Financing
Institutions in Asia and the Pacific (ADFIAP); International Finance Corporation
(IFC); United Nations Development Program - Indonesia (UNDP); Indonesia
Business Links (IBL); Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI);
Ikatan Alumni AIM Indonesia (IAAIMI); Academy of Corporate Governance
(ACG); Center for International Private Enterprise (CIPE); Center for
Good Corporate Governance (CGCG) Korea; Makati Business Club (MBC) Philippines;
and All India Management Association (AIMA)
Sponsored in Indonesia by Bank Niaga and the United Nations Development
Programme, the Conference aims to highlight
how the improvement of corporate governance in Asia can help in reducing
corruption in both the private and public sectors, thereby
contributing to robust economic development. Other sponsors include Pearl
Oil (Jambi) Ltd., Garuda Indonesia, PT Freeport Indonesia, AIG Lippo,
Shell, Figaro Coffee Company, Hills Governance Center, Daya Dimensi Indonesia
and PricewaterhousCoopers. The official media partners include the International
Herald Tribune, Business Monitor International, Corporate Governance Asia,
SWA Sembada, Finance India, KWR International, Philippine Graphic, Asiamoney,
Asialaw and the China Law and Practice.
The President of Indonesia, H.E. Susilo Bambang Yudhoyono,
H. E. Prime Minister Abdullah Bin Ahmad Badawi, the Prime
Minister of Malaysia and General Fidel Ramos, former President of the
Philippines have been invited to grace the occasion and deliver the Opening
Keynote addresses.
BERITA KUTA
12 October 2003
jalan legian tertutup untuk semua kendaraan selama 24 jam mulai jam 6
pagi
GROUND ZERO:
8 am to 3 pm : terbuka untuk public untuk renungan
3 pm to 5 pm : tertutup untuk public dan terbuka hanya untuk
keluarga korban untuk mengenang anggota keluarga mereka tercinta
5 pm to 10 pm : terbuka kembali untuk publik
10 pm to 11.30 pm : tertutup untuk public dan terbuka hanya untuk keluarga
korban untuk mengenang anggota keluarga mereka tercinta
SENTRA INFORMASI MANAJEMEN PERKOTAAN KUTA YANG TERLETAK DISEBELAH EX.
SARI CLUB MENYEDIAKAN MINUMAN SERTA MAKANAN KECIL CUMA-CUMA UNTUK PARA
KELUARGA KORBAN – SILAKAN MAMPIR
TENGAH MALAM S/D 2 AM : MARILAH KITA BERSAMA MEMPERINGATI SERTA MERENUNGI
TRAGEDI KEMANUSIAAN SERTA BERDOA UNTUK PARA KORBAN
PARA MEDIA DIHARAPKAN UNTUK MENDAFTARKAN DIRI DI KANTOR LPM KUTA DI KANTOR
LURAH KUTA, JALAN BLAMBANGAN, KUTA SEBELUM BELOKAN KE SUPERNOVA
Pencegahan
& Persiapan SARS: Update 20 Juni 2003
SARS Statistik (WHO,
19 Juni 2003)
Sampai saat ini, jumlah total 8462
kemungkinan kasus SARS dan 804 kematian telah dilaporkan dari 29 negara.
Jumlah kumulatif kasus kemungkinan melebihi
5000 pada tanggal 28 April, 6000 pada tanggal 2 Mei dan 7000 pada tanggal
8 Mei.
Menurut data dasar yang
lebih akurat dan lengkap, dan metode yang lebih dipercaya WHO kini memperkirakan
kasus berdasarkan rasio SARS antara 0% sampai 50%
tergantung kepada kelompok umur yang terinfeksi, dengan perkiraan keseluruhan
kematian antara 14% sampai 15%.
Saat ini, 7178 orang telah sembuh dari SARS, 480 orang masih sakit.
Secara keseluruhan kematian sampai saat ini sekitar 10.07%.
(June 4: 11.84% - Mei 23: 13.74% - Mei 3: 13.87%).
Data terbaru: Transmisi dalam Penerbangan
Data lengkap dari informasi yang terbaru mengenai semua kasus belum
diperoleh. Namun, kini telah diketahui dalam satu penerbangan, para penumpang
yang duduk sampai barisan ke tujuh di depan dan 5 barisan ke belakang
dari orang yang mempunyai gejala SARS dapat terinfeksi. WHO memperingatkan
pada 4 penerbangan, yang mana dua diantaranya dalam penerbangan CA112
telah terinfeksi.
Bagaimanapun juga, kini kita dapat optimis bahwa epidemi SARS
dapat dihentikan.
Negara-negara yang melaporkan kasus ini kebanyakan tidak pernah mengalami
transmisi lokal, dan situasi mengenai transmisi lokal ini di negara penyebab
utama yaitu Cina semakin hari semakin meningkat.
Karena tekanan sosial yang tinggi karena ketakutannya akan SARS, Cina
mungkin akan menemukan jalan keluar dalam usahanya memerangi penyebaran
penyakit ini.
Bali, Indonesia (BaliSOS)
Di airport internasional di Denpasar, sebuah tim media yang terdiri
dari 10 dokter dan 8 perawat setiap saat mengadakan monitoring dari
kedatangan para wisatawan/pendatang, terutama difokuskan pada wisatawan/pendatang
yang datang dari negara-negara yang terjangkit SARS.
Tim ini bertanggung jawab untuk pendeteksian sedini mungkin, pemeriksaan
badan dan pengidentifikasian dari para penumpang yang diduga terjangkit
SARS.
Tentang SARS: Masa inkubasi (jangka waktu antara
mulai terjangkit wabah dan awal terlihatnya tanda-tanda) untuk SARS
berlangsung antara 2 - 12 hari.
Untuk saat ini belum ada methode untuk mendeteksi infeksi SARS sebelum
terlihat tanda-tanda.
Hanya sekitar 10% - 20% dari orang yang terinfeksi SARS menghasilkan
penghilangan tanda-tanda.
Kebanyakan dari hal tersebut tidak dapat bertahan.
Penyebab dari infeksi SARS kebanyakan hanya flu ringan.
Jika orang tersebut tidak menemui dokter dan diisolasi, maka selanjutnya
mereka akan menyebarkan wabah tersebut ke banyak orang. Baca
lebih lanjut disini
Untuk saat ini belum ditemukan adanya kasus
SARS di Bali.
Tetapi dampak dari SARS pada sektor pariwisata telah terasa sekali
dan begitu pula dengan pekerjaan.
Jumlah kedatangan di bandara pada bulan April 2003 mengalami penurunan
yaitu sejumlah 53.714 dibandingkan dengan bulan Maret 2003 yaitu
sejumlah 72.263 .
Meskipun demikian kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi
berbagai hal yang terburuk yang akan terjadi terhadap kasus SARS
tanpa perlu mengkhawatirkannya setiap hari.
Bali tidak memiliki suplai yang cukup untuk masker wajah atau alat
bantu nafas (ventilators).
Untuk saat ini kecuali BaliSOS, belum ada terjemahan langsung dari
WHO atau CDC tentang informasi yang dapat dipercaya untuk menolong
khalayak umum untuk mengetahui langsung tentang situasi yang sedang
dianalisa dan ditinjau oleh WHO atau CDC.
Kita mengetahui dengan baik bahwa Indonesia adalah negara yang
miskin dan sistem kesehatan secara umum selalu terbentur pada masalah
keuangan.
Konsultasi dengan seorang dokter bisa didapatkan dengan biaya murah
dari sebagian gaji perbulan, dari hasil survey kebanyakan orang
konsultasi ke dokter hanya jika mereka sakit. Sehingga tanpa adanya
uang secara umum tidak akan ada pertolongan medis yang tersedia
disini.
Pemerintah Indonesia dan pemerintah propinsi Bali saat ini sedang
terfokus pada masalah pencegahan SARS dan melakukan berbagai upaya
yang bisa dilakukan untuk menjaga agar Indonesia tetap terbebas
dari wabah SARS serta mempersiapkan diri dengan baik jika suatu
saat Indonesia terserang wabah SARS.
Untuk pengetahuan yang baik dan tepat hampir tidak ada sama sekali
organisasi kemanusiaan yang aktiv ikut serta menanggulangi penyebaran
wabah SARS di Bali atau tempat lain di Indonesia.
Kami perhatikan dan tetap tidak mengerti ketidaktahuan ini!
Tetapi mungkin pejabat di organisasi kemanusiaan memerlukan beberapa
minggu lagi dan beberapa kali pertemuan dengan dewan pengurus sebelum
mereka mempersiapkan untuk melakukan tindakan.
BaliSOS menerima bantuan logistic dari Asosiasi Hotel dan Restoran
Indonesia - Bali.
BaliSOS telah menerima sumbangan peralatan dari BIWA
(Bali International Women Foundation) senilai kurang lebih 1.400
EURO.
Australian Red Cross
menginformasikan kepada kami pada tanggal 25 April, bahwa mereka
sedang menilai kemungkinan mereka untuk terlibat di dalam upaya
persiapan dan pencegahan wabah SARS di Indoneasia termasuk Bali.
Pada tanggal 30 April kami diberitahukan oleh Australian
Red Cross, bahwa semua dana yang terkumpul selama "Seruan
Bali" setelah terjadinya pemboman di Kuta, telah dialokasikan
dan tidak ada dari dana tersebut untuk langkah - langkah yang berhubungan
dengan SARS.
BaliSOS mengerti bahwa total dari jumlah biaya adalah kira-kira
sekitar 14 juta dolar Australia, yang telah disumbangkan sebagai
tindak lanjut dari "Seruan
Bali", tetapi tidak ada dana yang telah dialokasikan langsung
untuk menolong orang-orang di Bali atau para korban bom non Australia.
Palang Merah Indonesia
- Bali menawarkan dukungan logistik dan penggudangan alat - alat
jika kami memiliki sesuatu untuk disimpan.
Mereka akan sesegera mungkin menolong jika pengkarantinaan memerlukan
untuk dilaksanakan, atau bencana lain melanda Bali. Semua dana mereka
telah dialokasikan untuk masalah non-SARS.
BaliSOS telah mensuplai kepada para pekerja di Bandar Udara International
Bali yang berhubungan dengan para wisatawan yang tiba, dengan peralatan
perlindungan seperti masker wajah, sarung tangan dan sabun antiseptik
secara teratur sejak tanggal 4 April 2003.
Aktivitas utama BaliSOS yang lainnya yang sedang dilakukan adalah
mencari dukungan terhadap kampanye "Saatnya
Damai" untuk kewaspadaan masyarakat, dengan memfokuskan
pada informasi bagaimana cara untuk menekan resiko penyebaran penyakit
dan reaksi yang panik serta ketakutan.
Ringkasan aktivitas yang sedang dilakukan oleh BaliSOS :
- Mensuplai peralatan perlindungan seperti masker wajah, sarung
tangan dan sabun antiseptic ke para pekerja dan petugas kesehatan
di bandara.
- Menyebarkan informasi tentang SARS ke para pekerja dan petugas
kesehatan di bandara .
- Menterjemahkan informasi dari WHO dan CDC ke bahasa Indonesia,
menerbitkan pada www.BaliSOS.com dan menyediakannya kepada Rumah
Sakit Sanglah, Menteri Kesehatan Indonesia, Departemen kesehatan
Bali, para pekerja di bandara dan yang lainnya.
- Mengumpulkan informasi tentang kondisi pengkarantinaan di Bali
dan mencarikan solusinya untuk perbaikan.
- Menyusun dan merencanakan kontak dengan perwakilan Pemerintah
Propinsi Bali, WHO, beberapa rumah sakit, bandara serta organisasi
pendonor dan organisasi kemanusiaan baik lokal maupun international.
- Mencari bantuan logistik dan financial untuk membantu Bali dan
Indonesia mencegah penularan SARS dengan sebaik mungkin.
Salam,
Made Sambu
(Harry Bleckert)
Koordinator Bali SOS Group
www.BaliSOS.com
Ph: +62 (361) 731-130
Hp: +62 (818) 357-726
BOM BALI
Pada tanggal 12 Oktober, jam 23:15 Wita terjadi ledakan bom di Legian,
Kuta. Di pusat pariwisata Bali; tepatnya di nightclub terkenal dikawasan
ini yaitu "Sari Club" dan "Paddy’s". Ledakan
ini mengakibatkan sedikitnya 187 orang meninggal dunia (data terakhir
tanggal 13 Oktober jam 20.00 Wita). Banyak korban menderita luka
bakar yang cukup serius dan mendapat perawatan intensif di beberapa
rumah sakit di Bali.
To all Help Organisations
engaged in Bomb Victim Care or other Bali Recovery Activities:
Please let us have your Financial
Reports for Publication on this Website.
BaliSOS is dedicated to help make all recovery related activities
more transparent thus preventing any potential for misuse of donated
funds.
Please mail reports to: admin@BaliSOS.com
News Update
Nationalities
of people killed in Bali blasts
BALI, Indonesia, Feb 19 (Reuters) - Indonesian
police released an estimated final death toll of 202 from
the October 12 bomb attacks.
People from at least 20 countries were killed in the bombings,
the biggest attack since the September 11, 2001 strikes on
the United States. Below is a breakdown of casualties by nationality:
-----------------
Australia 89
Indonesia 38
Great Britain 23
Sweden 9
United States 7
Germany 6
Netherlands 4
Denmark 3
New Zealand 3
France 3
South Africa 2
Japan 2
South Korea 2
Brazil 2
Italy 1
Taiwan 1
Portugal 1
Equador 1
Poland 1
Canada 1
Unknown 3
-------------------------
KELOMPOK
KERJA BALI SETAMAN:
In cooperation with the DPRD of Bali, we would like to invite
the Head or Director of your organization to “Rembug
Krama Bali” (Bali Community
Discussion). This event will provide a forum for coordination
between the programs of organizations involved in the Bali
recovery program. The time and venue are:
Date : 19-20 February 2003
Time : 08.30
Venue: Gedung DPRD Bali, Niti Mandala-Renon, Denpasar, Bali
Agenda - Proposal
Bali
to use 911 Emergency Response System???
CGI
- The Consultative Group on Indonesia
"Promoting Equitable Growth, Investment and Poverty Reduction"
- Bali, January 21-22, 2003, 8:30am-5:30 pm
- Agenda
of the 12th Consultative Group Meeting on Indonesia
- Confronting
Crisis:
Impacts & Response to the Bali Tragedy [*.pdf-245kb]
Summary of the Bali Recovery Group
Database (Jan-07-2003):
| 38 |
Indonesians
identified and confirmed killed |
| 151 |
Indonesians
Injured |
| 72 |
Indonesians
Missing (current figure, dead!?!) |
| 261 |
Families identified
as eligible for assistance, of which |
| 88 |
Families are
currently known to be receiving assistance. |
To date Rp 864
million has been paid to these families.
Eric Kaler from Rotary/YKIP informed the us as follows:
World Bank – USAID –
UNDP are working together on a survey, which will be used
to manage their response.
The assessment they produce from the surveys will be announced
at the CGI meeting in Bali at the end of January.
Most of their US$30 Million earmarked for
Bali will be distributed at the Kecamatan level after focus
groups determine the needs and government plans and approvals
are received. Largest allocations are likely to be for infrastructure
improvements in each of the 53 Kecamatans, and not for
food, unemployment, or tourism programs.
Other large organizations planning recovery
assistance are:
Asian Development Bank Undetermined amount
JICA/Japan Embassy US$20 Million
AUSAID US$1.4 Million
DFID/British Embassy US $300,000
UNICEF US $55,000
World Bank/Netherlands US$4 Million
Total US $55.75 Million |